Pengembangan Profesionalisme Guru Tahapan Kegiatan Bermain Anak Usia Dini Oleh Dewi Laily Kartika

 

PENGEMBANGAN PROFESIONALISME GURU

TAHAPAN KEGIATAN BERMAIN ANAK USIA DINI

Oleh:

DEWI LAILY KARTIKA


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan hidayah-Nya,penulis bisa menyelesaikan Materi Bahan Ajar ini yang berjudul “Pengembangan Profesionalisme Guru Tahapan Kegiatan Bermain Anak Usia Dini”.Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Rina Wulandari,M.Pd selaku guru Dosen Pembimbing yang telah membantu penulis dalam mengerjakan Materi Bahan Ajar ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah berkontribusi dalam pembuatan Materi Bahan Ajar ini.

Materi Bahan Ajar ini menguraikan tentang tahapan kegiatan bermain anak usia dini  serta memandu saudara untuk lebih mengenali tentang tahapan,jenis,dan pola interaksi bermain anak usia dini  berdasarkan usia mereka.Pada Materi Bahan Ajar ini akan menyiapkan saudara untuk lebih memahamai tentang jenis,pola interaksi,dan tahapan bermain yang sangat diperlukan dalam proses penyusunan stimulasi pengembanagan kegiatan bermain.

Penulis menyadari ada kekurangan pada Materi Bahan Ajar ini. Oleh sebab itu, saran dan kritik senantiasa diharapkan demi perbaikan karya penulis. Penulis juga berharap semoga Materi Bahan Ajar ini mampu memberikan pengetahuan tentang tahapan kegiatan bermain anak supaya lebih terarah dan bermanfaat.

Banyuwangi,26 Juli 2021

 

Penulis

A.    PENDAHULUAN

1.      Deskripsi Singkat

Dalam Materi Bahan Ajar ini akan membahas tentang tahapan kegiatan bermain anak usia dini.Adapaun tujuan dalam pembahasan Materi Bahan Ajar ini bertujuan supaya dapat membantu untuk lebih memahami tentang bermain dan tahapannya dalam kehidupan sehari hari.

Bermain adalah bagian mutlak dari fase kehidupan anak. Suatu permainan merupakan wadah bagi anak untuk mengekspresikan jati dirinya. Dengan bermain, otomatis anak akan merasa gembira dengan apa yang ia mainkan, karena kembali pada hakikatnya, bermain merupakan aktivitas menyenangkan yang disukai anak.Dalam proses bermain, ada beberapa tahapan yang perlu diketahui oleh Ayah Bunda. Tahapan tersebut disesuaikan dengan kondisi sosial anak-anak Setelah anak melewati enam tahapan tersebut, apakah bermain memiliki manfaat bagi anak? Jawabannya adalah ya. Bermain merupakan salah satu aktivitas menyenangkan yang dilakukan demi aktivitas itu sendiri. Bermain juga memiliki fungsi dan bentuk (Santrock, 2012:306).https://bimba-aiueo.com/tahapan-bermain-anak/

Materi pada Bahan Ajar ini berhubungan sangat erat dengan kemampuan seorang guru professional dalam mengoptimalkan perkembangan anak melalui kegiatan bermain.Oleh karena itu,guru perlu merancang kegiatan bermain yang tepat;apakah terkait dengan penentuan materi,pemilihan bahan ajar,pembuatan alat permainan edukatif,dan membuat program stimulasi kegiatan bermain yang sesuai dengan kebutuhan dan tahapan perkembangan anak.PMateri Bahan Ajar ini akan menyiapkan Guru untuk lebih memahami tentang jenis,pola interaksi,dan tahapan bermainyang sangat diperlukan dalam proses penyusunan stimulasipengembangan kegiatan bermain.

 

2.      Capaian Pembelajaran

Dalam materi bahan ajar ini akan dibahas beberapa materi utama dengan tujuan untuk:

a.       Merancang pembelajaran untuk AUD berdasarkan teori bermain

b.      Mewujudkan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak abad  21

c.       Mempermudah penerapnnya terhadap anak yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuannya.

B.     Pokok Pokok Materi

-          Kegiatan Bermain Berbasis Teori Ekologi

-          Jenis Kegiatan Bermain

-          Tahapan Kegiatan Bermain

1.      Definisi dari Tahapan Bermain Anak Usia Dini

Sebelum kita membahas tentang tahapan kegiatan bermain anak usia dini lebih dalam mari kita uraikan satu persatu definisi dari beberapa istilah berikut

a.       Tahapan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata tahapan adalah tingkatan. Arti lainnya dari tahapan adalah jenjang. https://lektur.id/arti-tahapan/

b.      Kegiatan Bermain

Bermain merupakan kegiatan yang selalu dilakuakan oleh anak usia dini setiap hari,sepanjang waktu mereka terjaga.Proses belajar pun dilakukan dengan bermain.Anak menggunakan panca indranya untuk menjelajahi lingkungan sekitar dalam bermain.

Bermain adalah hak melekat yang dimiliki oleh setiap anak,tanpa terkecuali.Bermain penting bagi kehidupan anak,seperti halnya kebutuhan untuk beristirahat dan beraktivitas secara kreatif sesuai dengan minat mereka.Hal ini pun ditegaskan dalam UU Perlindungan Anak No.23/2002 Pasal 11 yang menyatakana bahwa”setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang,bergaul dengan anak yang sebaya,bermain dan berkreasi sesuai dengan minat,bakat,dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri.

Beberapa teori yang mendefinisikan tentang bermain

A.    TEORI EKOLOGI

Teori ekologi perkembangan anak diperkenalkan oleh Uri Bronfenbrenner, seseorang ahli psikologi dari Cornell University Amerika Serikat. 8 Teori ekologi memandang bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh konteks lingkungan. Hubungan timbal balik antara individu dengan lingkungan yang akan membentuk tingkah laku individu tersebut. Informasi lingkungan tempat tinggal anak untuk menggambarkan, mengorganisasi dan mengklarifikasi efek dari lingkungan yang bervariasi.

Teori ekologi mencoba melihat interaksi manusia dalam sistem atau subsistem. teori ekologi memandang perkembangan anak dari lima sistem lingkungan yaitu

1.      Mikrosistem  adalah lingkungan anak dimana anak bertempat tinggal.contohnya keluarga individu,teman sebaya,sekolah dan lingkungan temapat tinggal.

2.      Eksosistem system social dimana anak tidak terlibat secara langsung,tetapi begitu berpengaruh pada perkembanagan anak.

3.      Makrosistem system lapisan terluar dari lingkungan anak.Sub system makrosistem terdiri dari ideology Negara,pemerintah,tradisi,agama,hokum,adat istiadat,budaya dll.

4.      Mesosistem meliputi antara mikrosistem yang berbeda dimana seorang anak berada.

5.      Kronosistem membrikan kegunaan dari dimensi waktu yang menunjukkan penngaruh akan perubahan dan kontuinitas dalm lingkungan seorang anak.

Teori Ekologi dicetuskan oleh seorang developmenttalis,Urie Bronfenbrenner.Fokus utama dari teori ini adalah konteks social di mana anak tinggal dan orang – orang yang mempengaruhi perkembangan anak.Terdapat system lingkungan yang merentang dari interaksi intra personal sampai ke pengaruh budaya yang lebih luas.

B.     TEORI BERMAIN KLASIK

Teori ini dibagi menjadi 4

1.      Teori Surplus Energy(The Surplus Energy Theory) teori yang mengartikan bahwa bermain adalah suatu kegiatan yang bermanfaat untuk menegeluarkan energy anak yang berlebihan atau melimpah.

2.      Teori Relaksasi/Teori Rekreasi(The Recreation/Relaxation Theory) teori ini menyatalkana bahwa bermain berfungsi untuk merefres energy.Dalam artian bermain dapat mengembalikan nergi yang hilang.

3.      Teori Praktis(The Pre-Exercise/Practice Theory) Pada teori ini bermain merupakan sebagai cara untuk mempraktekkan dan menyempurnakan insting untuk bertahan.bermain juga akan membantu anak mendapatkan banyak ketrampilan hidup yang diperlukan nantinya dalam kehidupan sehari hari.

4.      Teori Rekapitulasi(The recapitulation Theory)  bermain merupakan kegiatan katarsis untuk menghilangakan naluri primitive yang tidak tepat untuk diturunkan pada generasi selanjutnya.

C.     TEORI BERMAIN MODERN

Teori ini dibagi menjadi 4

1.      Teori Psikoanalisis

Bermain adalah cara untuk mengurangi kecemasan.

2.      Teori sosio Kultural/Kontekstual

Dalam konteks sosio-kultursl,Vygotsky menyatakan bahwa bermain secara langsung mendukung kekuatan perkembanagan kognitif anak,terutama dalam kegiatan bermain simbolik,karena mendukung kemampuan berpikir abstrak.

3.      Teori ArousalModulation(Aurosal Modulation Theory)

4.      Bermain adalah cara untuk mencari keseimbangan level kesenangan dan tantangan.

5.      Teori Kognitif

Teori ini menekankan bahwa anak – anak membutuhkan lingkungan yang memungkinkan mereka dapat menciptakan pengetahuan mereka dariapada menerimanya dari para guru.

Karakteristik kegiatan bermain yaitu menyenangkan,motivasi intrinsic/personal,lebih berorientasi pada proses,non literal,atuiran yang fleksibel,aktif,komunikatif,episodic dan bermakna.

 

c.       Anak Usia Dini

Pengertian anak usia dini secara umum adalah anak-anak di bawah usia 6 tahun. Pemerintah melalui UU Sisdiknas mendifinisikan anak usia dini adalah anak dengan rentang usia 0-6 tahun. Soemiarti patmonodewo mengutip pendapat tentang anak usia dini menurut Biecheler dan Snowman, yang dimaksud anak prasekolah adalah mereka yang berusia antara 3-6 tahun.Batasan yang dipergunakan oleh the National Association For The Eduction Of Young Children (NAEYC), dan para ahli pada umumnya adalah : “Early childhood” anak masa awal adalah anak yang sejak lahir sampai dengan usia delapan tahun. Jadi mulai dari anak itu lahir hingga ia mencapai umur 6 tahun ia akan dikategorikan sebagai anak usia dini.20 Beberapa orang menyebut fase atau masa ini sebagai golden age karena masa ini sangat menentukan seperti apa mereka kelak jika dewasa baik dari segi fisik, mental maupun kecerdasan.

Sedangkan hakikat anak usia dini adalah individu yang unik dimana ia memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan dalam aspek fisik, kognitif, sosioemosional, kreativitas, bahasa dan komunikasi yang khusus yang sesuai dengan tahapan yang sedang dilalui oleh anak tersebut. Dari berbagai definisi, peneliti menyimpulkan bahwa anak usia dini adalah anak yang berusia 0-8 tahun yang sedang dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun mental. https://www.silabus.web.id/anak-usia-dini/

 

Dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 60 Tahun 2013, anak usia dini adalah bayi yang baru lahir hingga anak-anak yang belum genap berusia 6 tahun. Dalam pemantauan

tumbuh-kembangnya, kelompok usia ini dibagi lagi menjadi janin dalam kandungan sampai lahir, lahir sampai dengan usia 28 hari, usia 1 sampai 24 bulan, dan usia 2 sampai 6 tahun.Dari segi pendidikan, usia dini ini merupakan masa keemasan dalam perkembangan otak anak sehingga Si Kecil harus diberi rangsangan atau stimulus yang tepat. https://www.sehatq.com/artikel/memahami-pengertian-anak-usia-dini-dan-karakteristiknya

 

 

Pengertian Tahapan Perkembangan Anak Usia Dini

Anak usia dini adalah anak yang berada pada rentan usia 0-6 (nol sampai dengan enam ) tahun (Undang undang Sisdiknas tahun 2003) dan 0-8 tahun menurut para pakar pendidikan anak.
Menurut Mansur (2005: 88) anak usia dini adalah kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik. Mereka memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya.
https://www.erraedu.com/pengertian-tahapan-perkembangan-anak-usia-dini/

Jadi tahapan kegiatan bermain anak usia dini ialah Tingkatan kegiatan anak yang dilakukan secara terus menerus sepanjang waktu selama mereka terjaga dan menyenagkan bagi mereka untuk mengembangakan kemampuannya sesuai dengan usia mereka.

2.      Jenis Kegiatan Bermain

Menurut Pamela Mineet Jenis kegiatan bermain dikelompokkan menjadi enam jenis,yaitu :

1.      Bermain Penemuan (Discovery Play) adalah kegiatan bermain yang memungkinkan anak untuk menemukan sesuatuapa yang mereka suaki(tekstur,bentuk,ukuran,warna)bagaimana mainan itu dibuat,bagaimana mainan tersebut dapat digunakan.

2.      Kegiatan Bermain Secara Fisik (Phisically Play) kegiatan bermain ini dicirikan dengan kegiatan yang dilakukan oleh anak menggunakan otot otot besar seperti belrlari,melompat ata berenang.

3.      Bermain Kreatif (Creative Play) kegiatan bermain yang terjadi ketika anak mengekspresikan pikiran dan perasaan secara orisinal atau dalam membuat Sesutu secara natural,sperti menggambar,melukis atau bermain menggunakan playdiugt membentuk sebuah bentuk tertentu.

4.      Bermain Imajinatif (Imaginative Play) adalah bermain pura pura atau fantasi.

5.      Bermain Manipulativ (Manipulative Play) adalah kegiatan bermain dengan melibatkan kemampuan menggunakan tangan.

6.      Bermain Sosial (Social Play) terjadi ketika anak sudah mulai bermain bersam sama dan terlibat antara satu dengan yang lainnya.

 

Dilansir dari Very Well Family, ada enam jenis permainan anak yang dilakukan sesuai usia, suasana hati, dan latar sosial, seperti:

1. Permainan ‘bebas’ (Unoccupied play)

Description: jenis permainan anak
 

 

 

 

 

 

 

 

 


Permainan ini biasanya banyak dilakukan ketika si kecil masih bayi. Tahap permainan ini mengacu pada kreativitas anak untuk menggerakkan tubuh secara acak dan tanpa tujuan. Ini merupakan permainan paling dasar yang dilakukan oleh anak-anak. Gunanya melatih anak untuk bebas berpikir, bergerak, dan berimajinasi tanpa aturan permainan.

Beberapa contoh permainan yang bisa Anda mainkan seperti main lempar tangkap bola. Supaya lebih merangsang perkembangan si kecil, Anda juga bisa memberikan berbagai macam mainan anak lainnya yang memiliki tekstur dan warna menarik serta bisa mengeluarkan bunyi-bunyian.

Hindari mainan yang ukurannya kecil, mengeluarkan cahaya yang tajam, dan juga terlalu besar.

2. Bermain sendiri (Independent play)

Description: anak main boneka manfaat bermain boneka
 

 

 

 

 

 

 

 

 


Sesuai dengan namanya, kata independent berarti sendiri. Maksudnya, orangtua hanya sebatas mengawasi anaknya saja ketika mereka bermain sendiri. Membiarkan anak bermain sendiri sangat penting untuk tumbuh kembang anak. Mengapa? Bermain sendiri berarti mendorong anak untuk membentuk sikap mandiri.

Tidak ada orang di sekitarnya yang ikut bermain, akan membuat anak menjadi lebih mengenal kemampuan dirinya sendiri dan meningkatkan rasa kepercayaan diri anak atas usahanya dalam menyelesaikan permainan.

Jenis permainan ini biasanya dilakukan oleh anak usia 2 sampai 3 tahun. Pada usia tersebut, anak-anak cenderung pemalu dan keterampilan komunikasinya belum cukup baik sehingga lebih nyaman untuk bermain sendiri.

Ada banyak cara untuk melakukan jenis permainan ini. Contohnya, seperti bermain kereta-keretaan atau mobil-mobilan, bermain boneka atau action figure, dan menyusun puzzle atau balok.

3. Permainan mengamati (Onlooker play)

Description: anak bersosialisasi
 

 

 

 

 

 

 

 

 


Pernahkan Anda mengamati seorang anak yang hanya mengamati anak lain yang bermain? Ya, walaupun tidak ikut andil dalam permainan, anak tersebut sebenarnya sedang bermain juga. Ya, ‘permainan mengamati’ (onlooker play).“Permainan mengamati” ini membantu si kecil untuk mengembangkan komunikasi dengan teman seusianya, memahami aturan permainan baru, dan lebih berani untuk berinteraksi dengan teman-temannya yang lain untuk membahas permainan tersebut.

Anda dapat memerhatikan anak-anak melakukan hal ini, biasanya saat bermain di luar rumah. Misalnya, ikut memerhatikan anak lain yang bermain petak umpet, melihat permainan anak lain yang bermain bola, atau melihat anak-anak perempuan yang bermain lompat tali.

3.      Permainan paralel (parallel play)

Description: menguatkan hubungan kakak adik di rumah
 

 

 


Ketika berusia balita, si kecil akan mengalami masa peralihan, yaitu dari yang bermain sendiri kemudian mulai berbaur dengan teman-temannya. Namun pada awalnya mereka akan tetap bermain sendiri meski sedang bersama temannya. Hal ini disebut dengan parallel play.

Jadi ia akan cenderung fokus dengan mainan yang sedang ia mainkan, meski di sekitarnya ada temannya yang juga sedang bermain permainan yang sama. Walaupun anak masih sibuk dengan dunianya sendiri dan tidak memperhatikan temannya yang lain, jenis permainan ini memberikan kesempatan anak untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Misalnya, mereka saling bertukar mainan atau memulai obrolan kecil dengan temannya mengenai permainannya.

 

5. Permainan Asosiatif

Description: membantu anak autisme bersosialisasi
 

 

 

 

 

 

 

 


Nah, ketika semakin besar si kecil akan cenderung memainkan permainan asosiatif. Tahap permainan ini hampir sama dengan permainan mengamati, tapi kali ini sang buah hati mulai ikut tertarik menirukan gerakan-gerakan permainan yang ia lihat.

Si kecil akan ikut bermain, menunjukkan rasa ketertarikannya dengan permainan tersebut. Misalnya, ia sedang melihat teman sebayanya main petak umpet. Ketika itu, si kecil tidak akan sekadar mengamati, tapi juga ikut berlarian mencari atau mengelilingi teman-temannya yang sedang bermain.

Dalam tahap permainan ini, meski anak sudah mulai ikut permainan, ia masih belum mengetahui cara melakukan permainan tersebut dengan benar atau mengetahui peraturan dari permainan.

6        Permainan berkelompok (Cooperative play)

Description: anak optimis
 

 

 

 

 

 

 

 


Jenis permainan anak ini merupakan tahapan akhir ketika anak benar-benar bisa bermain dengan temannya yang lain. Biasanya cooperative play dilakukan oleh anak-anak yang lebih besar atau sudah bersekolah. Permainan ini menggunakan semua keterampilan sosial yang dimiliki anak, terutama dalam berkomunikasi.

Bukan hanya mengandalkan kemampuan sendiri, seperti bermain kelereng, petak umpet, bola bekel, atau congklak. Jenis permainan ini juga membangun kerja sama anak dan teman satu kelompoknya memiliki tujuan yang sama, baik itu menyelesaikan permainan atau memenangkan permainan. Misalnya, bermain ular naga, galasin, atau sepak bola. https://hellosehat.com/parenting/anak-1-sampai-5-tahun/perkembangan-balita/jenis-permainan-anak/

4.      Tahapan Bermain

Menurut Elizabeth Hurlock bahwa kegiatan bermain yang dilakukan oleh seorang anak melewati suatu tahapan yang dapat diramalkan sesuai dengan tingkatan usianya.Tahapan bermain yang dimaksud dimulai dari :

a.       Tahapan Ekplorasi ( exploratory stage )

Pada tahapan ini ditandai dengan kegiatan melakukana gerakan – gerakan acak dan mencoba mengenali suatu benda yang diberikan kep[adanya.

b.      Tahap Permainan ( toy stage )

Tahapan ini dimulai setelah anak dapat berjalan(sekitar usia satu tahun) sampai usia 5 dan 6 tahun.

c.       Tahap Bermain (play stage)

Tahapan ini dimulai ketika anak suidah mulai membutuhkan kehadiran teman dan biasanya terjadi pada saat usia sekolah.

d.      Tahap Melamun (daydream stage)

Tahap melamun terjadi saat menjelang usia remaja.

 

Tahapan bermain anak bila dihubungkan dengan tahapan perkembangan kognitif menurut Piaget ialah kegiatan bermain anak berawal dari kondisi yang awalnya melakukan pengulangan gerakan menjadi semakin kompleks yang ditandai dengan pemahaman mereka terhadap aturan.

Thapan bermain anak menurut Piaget yang disempurnkana oleh Smilansky dalam Dockeet dan Fleer yaitu kegiatan bermain dibagi menjadi 4 tahapan :

1.      Bermain fungsional ( fuctional play)  Tahapan bermain ini berkaitan dengan tahapan perkembangan sensori motor,yang melibatkan penggunaan objek atau tindakan yang berulang ulang.

2.      Bermain Konstruksi (construksion play)Tahapan bermain yang melibatkan penggunaaan alat – alat untuk menciptakan sesuatu yang tetap terbentuk setelah kegiatan bermain selesai.

3.      Bermain Simbolik (Symbolic play) merupakan kegiatan bermain yang mengijinkan anak untuk mentrasfer objek ke dalam symbol tertentu(sesuatu yang mewakili sesuatu),dan mengimajinasikannya ke dalam peran seseorang,tempat,atau kejadian dan pengalaman yang pernah dirasakan oleh anak.Pada Tahapan bermain simbolik ini menurut Wolfgang dan Wolfgang menyebutkan bahwa berdasarkan peralatan permainan yang digunakan,kegiatan bermain simbolik dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu bermain simbolik mikro (microsymbolic play) dan bermain simbolik makro (macrosymbolikc play).Kegiatan bermain  mikro kegiatan yang secara langsung anak berperan sebagai sutradara atau yang mengatur mainannya.Sementara mikro anak secara langsung memrankan tokoh yang disukainya dengan menggunakan alat yang sesuai.

4.      Bermain dengan Aturan (games with rules) yang berlangsung pada tahap perkembangan operasional konkret atau pada masa sekolah dasar.

 

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam kegiatan bermain anak terdapat tahapan tahapan sesuai usia yang dimiliki oleh anak.Jadi kita sebagai orang tua atau guru hanya memfasilitasi dan memberi stimulus supaya anak dapat berkembang secara optimal pada perkembangannya dalm kegiatan bermain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C.    RANGKUMAN

 

-          Teori Ekologi  memandang perkembangan anak dipengaruhi dari lima systemlingkungan yaitu Mikrosistem,Eksosistem,Makrosistem,Mesosistem,Kronosistem.

-          Teori bermain klasik dibagi menjadi 4 :teory surplus energi,teori relaksasi/rekreasi,teori praktis, dan teori rekapitulasi.

-          Teori bermain modern dibagi menjadi 4 : teori psikoanalisis,teori sosio/kultural,teori arousal modulation,dan teori kognitif.

-          Jenis – jenis kegiatan bermain Menurut Pamela Mineet Bermain Penemuan (Discovery Play), Kegiatan Bermain Secara Fisik (Phisically Play), Bermain Kreatif (Creative Play), Bermain Imajinatif (Imaginative Play), Bermain Manipulativ (Manipulative Play), Bermain Sosial (Social Play)

-          Tahapan bermain anak menurut Elizabeth Hurlock Tahapan eksplorasi (exploratory stage),Tahap permainan (toy stage),Tahap bermain (play stage)

 

 DAFTAR PUSTA

 

Hikmah,2019  Modul 2 PERKEMBANGAN DAN BELAJAR ANAK USIA DINI

 

Santrock, 2012:306  https://bimba-aiueo.com/TAHAPAN-BERMAIN-ANAK/ diakses tanggal 26 Juli 2021.

 

KBBI https://lektur.id/ARTI-TAHAPAN/ diakses tanggal 26 Juli 2021

 

HTTPS://WWW.SEHATQ.COM/ARTIKEL/MEMAHAMI-PENGERTIAN-ANAK-USIA-DINI-DAN-KARAKTERISTIKNYA diakses tanggal 26 Juli 2021.

 

Mansur2005:88https://www.ERRAEDU.COM/PENGERTIAN-TAHAPAN-PERKEMBANGAN-ANAK-USIA-DINI/ diakses tanggal 26 Juli 2021.

 

Very Well Family,HTTPS://hellosehat.com/parenting/ANAK-1-SAMPAI-5-

TAHUN/PERKEMBANGAN-BALITA/JENIS-PERMAINAN-ANAK/ diakses

 tanggal 26 Juli 2021.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KARAKTERISTIK INDIVIDU MASA DEPAN

APE Dari Bahan Sederhana " Permainan Mengenal kata " ( Oleh : Ika Prasetya,SPd. )